SELAMAT DATANG DI PORTAL MTS NAHDLATUL ULAMA JINGGOTAN KEMBANG JEPARA

Merah Putih Benderaku

Indonesia Negaraku , MTs. Nahdlatul Ulama Jinggotan Tempat Berjuangku.

MTs. Nahdlatul Ulama Jinggotan

MTs. Nahdlatul Ulama Jinggotan adalah salah satu Madrasah yang mengedepankan pendidikan agama Ala Ahlussunnah Waljamaah dan menjadikan siswa yang berakhlaqul karimah dan berguna bagi bangsa.

Siswa - Siswi MTs dengan Wali Kelas Masing-masing

Kelas 7 a dengan wali kelasnya Bpk. Ahmad Rois, S.Pd.I _ Kelas 7 b dengan wali kelasnya Bpk. Ahmad Chaqim, S.Pd

Siswa - Siswi MTs dengan Wali Kelas Masing-masing

Kelas 7 c dengan wali kelasnya Bpk. Sulkan, S.Pd.I _ Kelas 8 a dengan wali kelasnya Bpk. Rustamto, S.Pd

Siswa - Siswi MTs dengan Wali Kelas Masing-masing

Kelas 8 b dengan wali kelasnya Bpk. Abdul Jalil, S.Pd.I _ Kelas 8 c dengan wali kelasnya Bpk. Aries Muhlisin, S.Pd

Siswa - Siswi MTs dengan Wali Kelas Masing-masing

Kelas 9 a dengan wali kelasnya Bpk. Muhsin _ Kelas 9 b dengan wali kelasnya Bpk. Eko Agus S, S

Kementerian Agama Secara Resmi telah Mencanangkan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi

Pages

Jumat, 10 Januari 2014

Sunnah dan Bidah



Pengertian Sunnah
Pengertian sunnah secara etimologi berarti tata cara. Menurut pengarang kitab lisan al-Arab mengutip pendapat syammar sunnah berarti cara atau jalan, yaitu jalan yang di lalui orang-orang yang dahulu kemudian diikuti oleh orang-orang belakangan. Dalam kitab mukhtar al-shihah disebutkan bahwa sunnah secara etimologi berarti tata cara dan tingkah atau prilaku hidup, baik prilaku itu terpuji atau tercela.
Kedudukan Sunnah Dalam Islam
Pada masa rasulullah saw. tidak ada sumber hukum selain al-kitab dan as-sunnah. Di dalam kitabullah ta’ala terdapat pokok-pokok yang bersifat umum bagi hukum-hukum syariat, tanpa pemaparan rincian keseluruhannya dan cabangnya, kecuali yang sejalan dengan pokok-pokok yang bersifat umum itu yang tidak pernah berubah oleh bergulirnya waktu dan tidak berkembang lantaran keragaman manusia di lingkungan dan tradisi masing-masing meski bagaimanapun kondisi lingkungan dan tradisinya, umat manusia dapat menemukan didalam ajaran yang dapat memenuhi kebutuhan pembentukan hukum untuk mencapai kedinamisan dan kemajuan. Di samping itu, kita juga bisa menemukan didalam ajaran akidah, ibadah, kisah-kisah umat masa lampau, etika umum dan akhlaq.
Secara global, sunnah sejalan dengan al-qurán, menjelaskan yang mubham, merinci yang mujmal, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang umum dan menguraikan hukum-hukum dan tujuan-tujuannya, disamping membawa hukum-hukum yang belum di jelaskan secara eksplisit oleh al-qurán yang isinya sejalan dengan kaidah-kaidahnya dan merupakan realisasi dari tujuan dan sasarannya. Dengan demikian, sunnah merupakan tuntunan praktis terhadap apa yang dibawa oleh al-qurán.
Untuk mengetahui kedudukan rasulullah dan sunnah nya dalam islam, kita perlu melihat beberapa ayat al-qurán lebih dahulu. Dalam al-qurán dapat kita jumpai bahwa rasulullah saw. mempunyai tugas dan peran sebagai berikut :
1. Menjelaskan kitabullah.
Arinya : Dan kami turunkan kepadamu al-qurán, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah di turunkan kepada meraka, dan supaya memikirkan.( al-Nahl, 44 )
Di antara tugas rasulullah saw. beliau menjelaskan baik dengan lisan maupun perbuatan hal-hal yang masih global dan sebagainya. Tugas ini berdasarkan perintah allah swt. Penjelasan terhadap isi al-qurán itu bukanlah sekedar membaca al-qurán tapi juga memeurlukan penjelasan praktis. Dan itu sudah dilakukan oleh rasullah saw. menolak penjelasan rasulullah terhadap al-qurán juga tidak mungkin, karena menolak penjelasan rasulullah terhadap al-qurán sama saja artinya dengan menolak al-qurán itu.
2. Rasulullah merupakan teladan baik yang wajib di contoh oleh setiap    
     muslim
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab,21)
3. Rasulullah saw wajib di taati :
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada allah dan rasulnya. ( al-Anfal, 20 )
Artinya : Barang siapa yang taat kepada rasulullah maka berarti ia taat kepada allah.( an-Nisa, 80 )
Ayat-ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa rasulullah saw. diutus hanya lah agar dipatuhi perintah-perintahnya dengan izin allah, manusia belum dapat dikatakan beriman apabila belum mau menerima sistem dan hukum allah yang telah di contohkan oleh rasulullah sewaktu beliau masih hidup dan sesudah beliau wafat
4. Rasulullah saw mempunyai wewenang (kekuasaaan ) untuk membuat
     suatu aturan.
Artinya : Apa yang di berikan rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang di larangnya bagimu maka tinggalkanlah. (al-Hasyr, 7 )
Dari keterangan ayat tersebut diatas jelaslah bahwa memakai al-qurán saja dan meninggalkan sunnah adalah suatu yang tidak mungkin dan tidak di benarkan. Oleh karena itu imam Syafií mengatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang di wajibkan oleh allah maka berarti ia menerima sunnah-sunnah rasulnya serta menerima hukum-hukumnya.
Ingkarussunnah
Di muka telah di jelaskan bahwa memakai al-quran saja dan menolak hadis suatu hal yang tidak mungkin . dan mustahil pula mengaku sebagai muslim yang taat, pada masa sahabat ada yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah sebagai sumber hukum. Al-hasan menuturkan ketika Imran bin Husain mengajarkan hadits ada yang meminta agar tidak usah di ajarkan hadits tapi cukup al-qur’an saja. Hal serupa pernah terjadi pada Umayyah bin Kholid yang mencari seluruh permasalahan dengan hanya merujuk pada al-qur’an. Akhirnya ia berkata kepada Abdullah bin Umar hanya menemukan sholat di rumah dan waktu perang saja tetapi tidak dengan sholat du perjalanan. Ayyub al-Sakhtyani berkata, ‘’ apabila kamu mengajarakan hadits kepada seseorang, kemudian ia berkata tidak usah pakai hadits, ajari kami al-qur’an saja, maka ketahuilah bahwa orang itu sesat dan menyesatkan dan perlu di catat bahwa gejala seperti itu hanya terjadi di Iraq saja, tidak di seluruh negri islam.
Kesimpulan
Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah al-qur’an karena merinci apa yang belum di jelaskan secara eksplisif oleh al-qur’an.sedangkan inkarussunnah sudah ada pada zaman dahulu, akan tetapi hal itu sudah lenyap pada akhir abad ketiga.
PERBEDAAN HADIST,  SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu hadis, sunnah, atsar, dan khabar. Jumhur ulama menyamakan arti hadis dan sunnah, atau dengan kata lain keduanya merupakan kata sinonim (muradif). Hanya saja istilah hadis lebih sering digunakan oleh ulama hadis. Sedangkan ulama ushul fiqh lebih banyak menggunakan istilah sunnah. Nabi sendiri menamakan ucapannya dengan sebutan al-hadis untuk membedakan antara ucapan yang berasal dari beliau sendiri dengan yang lain[1]. Berikut ini uraian dari beberapa istilah di atas:
1.    Hadis
Kata hadis secara etimologi (bahasa) berarti al-jadid (baru, antonim kata qadim), al-khabar yang berarti berita dan al-Qarib (dekat).
Sedangkan secara terminologi hadis adalah segala ucapan, perbuatan, ketetapan dan karakter Muhammad Saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi.
2.    Sunnah
Sunnah secara etimologi adalah perbuatan atau perjalanan yang pernah dilalui baik yang tercela maupun yang terpuji. Sedangkan secara terminologi sunnah mempunyai pengertian yang berbeda-beda, karena ulama memberikan pengertian sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.
·         Menurut ulama ahli hadis, sunnah adalah semua hal yang berasal dari Nabi, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun hal-hal yang lainya. Menurut pengertian ini sunnah bisa meliputi fisik maupun perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum ataupun sesudah beliau diangkat menjadi Rasul. Mereka memandang Nabi adalah sosok suri tauladan yang sempurna bagi umat Islam, sehingga dalam pandangan mereka segala sesuatu yang berasal dari Nabi; baik yang ada kaitanya dengan hukum maupun tidak adalah sunnah.
·         Ulama usul fiqh memberikan definisi yang hampir sama, namun mereka membatasi sunnah hanya dengan yang bisa dijadikan acuan pengambilan hukum. Hal ini disebabkan mereka memandang Nabi sebagai syari’ (pembuat syariat) di samping Allah. Hanya saja ketika ulama usul mengucapkan hadis secara mutlak maka yang dimaksud adalah sunnah qawliyah. Karena menurut mereka sunnah memiliki arti yang lebih luas dari hadis, yaitu mencakup semua hal yang bisa dijadikan petunjuk hukum. bukan sebatas ucapan saja.
·         Ulama fiqh mendefinisikan sunnah dengan suatu hal mendapatkan pahala bila dikerjakan namun tidak sampai mendapatkan dosa bila ditinggalkan. Mereka memandang Nabi saw sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya mengandung hukum syara’.

3.      Khabar dan Atsar
Pengertian khabar dan atsar menurut ulama hadis adalah sama dengan hadis. Namun sebagian ulama berpendapat bahwasannya sesuatu yang berasal dari Nabi adalah hadis. Sedangkan yang berasal dari selain Nabi disebut khabar. Para fuqaha Khurasan menyebut hadis mawquf dengan khabar dan hadis maqthu‘ dengan atsar.
Menurut arti bahasa khabar ialah berita[1]. Jadi, khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadis, karena tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Secara terminologi khabar  ada beberapa pendapat, di antaranya "hadis yang disandarkan pada sahabat", atau "segala berita yang diterima dari selain dari Nabi". Untuk terminologi khabar, peneliti lebih sepakat dengan definisi yang pertama - sebagaimana juga dikemukakan oleh ulama Khurasan- yaitu khabar ialah hadis yang disandarkan pada sahabat (mawquf). Hal ini dimaksud untuk memudahkan klasifikasi serta untuk membedakan antara khabar dengan hadis atau sunnah.
Secara etimologi atsar berarti bekas atau sisa. Sedangkan secara terminologi ada 2 pendapat; (1). Atsar sinonim dengan hadis (2). Atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan sahabat[1]. Pendapat yang kedua ini mungkin berdasarkan arti etimologisnya. Dengan penjelasan, perkataan sahabat merupakan sisa dari sabda Nabi. Oleh karena itu, perkataan sahabat  disebut dengan atsar merupakan hal yang wajar.
Dari paparan tentang definisi hadis, sunnah, khabar dan atsar di atas, dapat dilihat bahwa ada perbedaan terminologi yang digunakan oleh muhadditsin terkait ruang lingkup dan sumber ke empat definisi tersebut. Hadis atau sunnah memberikan pengertian bahwa rawi mengutip hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw (marfu‘). Sedangkan khabar tidak hanya mencakup hadis marfu‘ saja tetapi juga mengakomodasi hadis mawquf (rawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada Rasulullah). Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi‘in (maqtu‘) saja. Sedangkan atsar oleh para muhadditsin lebih diidentikkan hanya pada hadis mawquf atau maqtu‘ saja.
Untuk memudahkan pengidentifikasian hadis, maka akan lebih mudah apabila istilah hadis, sunnah, khabar dan atsar dibedakan dalam pendefinisiannya. Hal ini dilakukan bukan untuk mendistorsi makna dari istilah tersebut, tetapi lebih dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi. Selain itu, diharapkan akan lebih mempermudah dalam memahami struktur hadis. Sehingga menurut hemat peneliti, hadis dan sunnah dipergunakan adalah untuk hadis marfu‘, khabar untuk hadis mawquf, dan atsar untuk hadis maqthu


BIDAH ( Ar : bid’ah )

Secara umum, bid’ah berarti “ segala sesuatu yang diada-adakan dalam bentuk yang tidak ada contohnya”.
Dilihat secara segi dari usul fikih, bid’ah dapat dibedakan atas dua jenis.  Yaitu sbb:
(1). Pertama, Bid’ah meliputi segala sesuatu yang diada-adakan dalam soal ibadah saja. Bid’ah dalam pengertian ini adalah urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, yang dipandang menyamai syariat itu sendiri, dan mengerjakannya secara berlebih-lebihan dalam soal ibadah kepada Allah .
(2). Kedua,     Bid’ah  meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun urusan adat. Perbuatan itu seakan-akan urusan agama, yang dipandang menyamai syariat  sendiri, sehingga mengerjakanya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri.
Dari segi fikih, bid’ah juga dapat dibedakan  jadi dua jenis yaitu ;
(1). Pertama,  bid’ah adalah perbuatan tercela yang diada-adakan serta bertentangan dengan Al Qur’an, sunah Rosulullah SAW, atau dengan ijmak. Inilah bid’ah yang sama sekali tidak diizinkan oleh agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara tegas maupun secara isyarat saja. Urusan-urusan  keduniaan tidak termasuk ke dalam  pengertian ini.
(2). Kedua,     Bid’ah meliputi segala yang diada-adakan  sesudah Nabi SAW, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, baik mengenai ibadah maupun mengenai adat, yaitu yang berkaitan dengan urusan keduniaan.
Dilihat secara umum sebenarnya bid’ah ini ada dua macam yaitu:
(1). Bid’ah hasanah ( yang baik). Dan bid’ah ini dibagi yaitu ;                                          
                   (a). Bid’ah wajibah ( yang wajib ) yaitu  pekerjaan yang masuk dalam kaidah-kaidah wajib , dan masuk dalam kehendak dalil agama. Misalnya, mengumpulkan dan membukukan Al Qur’an dalam satu mushaf ( lembaran naskah Al qur’an yang bertuliskan tangan ) Demikian juga membukukan ilmu, mempelajarinya dengan jalan memahami Al Qur’an, dan menetapkan kaidah-kaidah yang digunakan sebagai alat untuk  menggali hukum dari dalilnya. Hal ini dianggap bid’ah karena tidak ada dalm praktek pada masa Rosulullah SAW.
                   (b) Bid’ah mandubah ( yang sunah atau yang disukai Allah SWT ). Yaitu pekerjaan yang diwujudkan oleh kaidah – kaidah nabd ( sunat ) dan dalil- dalilnya. Misalnya mengerjakan tarawih berjamaah tiap malam bulan puasa, dan dipimpin oleh seorang imam tertentu. Perbuatan ini tidak pernah terjadi pada masa Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar RA, dan permulaan masa Umar RA. Setelah melihat jemaah masjid shalat sendiri-sendiri, atau berkelompok, maka Umar RA menyuruh seseorang untuk mengimami shalat tarawih tersebut.
                   ( c ) Bid’ah mubahah. Adalah pekerjaan yang diterima oleh dalil misalnya makan diatas meja ataumenggunakan pengeras suara untuk azan.
(2). Bid’ah qabihah atau sayyi’ah ( yang jelek ) dan Bid’ah ini dibagi menjadi dua yaitu:
(a)  Bid’ah makruhah  ( yang makruh atau yang tidak disenangi Allah ) adalah pekerjaan yang masuk dalam kaidah dalil makruh. Misalnya menentukan hari utama dengan suatu macam ibadah , menambah nambah amalan sunat yang telah ada batasnya.
(b) Bid’ah muharamah ( yang diharamkan ). Adalah pekerjaan yang masuk kedalam kaidah dan dalil haram. Misalnya, perbuatan-perbuatan yang masuk kedalam kaidah haram, adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang agama, seperti mengangkat orang yang tidak ahli untuk mengendalikan urusan-urusan penting atas dasar keturunan dengan mengabaikan keahlian.
Berkaitan  dengan bid’ah ini Rosulullah SAW pernah memperingatkan bahwa “ Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan ( urusan agama) tanpa ada dasar dariku (Nabi ) maka amalan itu sia-sia ( di tolak ). Peringatan itu terkandung dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim ditegaskan bahwa “ setiap bid’ah itu dianggap sesat, dan setiap yang sesat itu nerakalah yang pantas bagi pelakunya “. Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kata-kata    Setiap bid’ah itu sesat” adalah pekerjaan yang tergolong kedalam bid’ah sayyiah, yaitu bid’ah muharramah, dan bid’ah makruhah. Perbuatan-perbuatan  yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama Islam disebut al “al ’Amal as Sunni. Sedangkan perbuatan-perbuatan yang pelaksanaanya tidak menurut agama disebut al ‘Amal al Bid’i

Sunnah dan Bidah



Pengertian Sunnah
Pengertian sunnah secara etimologi berarti tata cara. Menurut pengarang kitab lisan al-Arab mengutip pendapat syammar sunnah berarti cara atau jalan, yaitu jalan yang di lalui orang-orang yang dahulu kemudian diikuti oleh orang-orang belakangan. Dalam kitab mukhtar al-shihah disebutkan bahwa sunnah secara etimologi berarti tata cara dan tingkah atau prilaku hidup, baik prilaku itu terpuji atau tercela.
Kedudukan Sunnah Dalam Islam
Pada masa rasulullah saw. tidak ada sumber hukum selain al-kitab dan as-sunnah. Di dalam kitabullah ta’ala terdapat pokok-pokok yang bersifat umum bagi hukum-hukum syariat, tanpa pemaparan rincian keseluruhannya dan cabangnya, kecuali yang sejalan dengan pokok-pokok yang bersifat umum itu yang tidak pernah berubah oleh bergulirnya waktu dan tidak berkembang lantaran keragaman manusia di lingkungan dan tradisi masing-masing meski bagaimanapun kondisi lingkungan dan tradisinya, umat manusia dapat menemukan didalam ajaran yang dapat memenuhi kebutuhan pembentukan hukum untuk mencapai kedinamisan dan kemajuan. Di samping itu, kita juga bisa menemukan didalam ajaran akidah, ibadah, kisah-kisah umat masa lampau, etika umum dan akhlaq.
Secara global, sunnah sejalan dengan al-qurán, menjelaskan yang mubham, merinci yang mujmal, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang umum dan menguraikan hukum-hukum dan tujuan-tujuannya, disamping membawa hukum-hukum yang belum di jelaskan secara eksplisit oleh al-qurán yang isinya sejalan dengan kaidah-kaidahnya dan merupakan realisasi dari tujuan dan sasarannya. Dengan demikian, sunnah merupakan tuntunan praktis terhadap apa yang dibawa oleh al-qurán.
Untuk mengetahui kedudukan rasulullah dan sunnah nya dalam islam, kita perlu melihat beberapa ayat al-qurán lebih dahulu. Dalam al-qurán dapat kita jumpai bahwa rasulullah saw. mempunyai tugas dan peran sebagai berikut :
1. Menjelaskan kitabullah.
Arinya : Dan kami turunkan kepadamu al-qurán, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah di turunkan kepada meraka, dan supaya memikirkan.( al-Nahl, 44 )
Di antara tugas rasulullah saw. beliau menjelaskan baik dengan lisan maupun perbuatan hal-hal yang masih global dan sebagainya. Tugas ini berdasarkan perintah allah swt. Penjelasan terhadap isi al-qurán itu bukanlah sekedar membaca al-qurán tapi juga memeurlukan penjelasan praktis. Dan itu sudah dilakukan oleh rasullah saw. menolak penjelasan rasulullah terhadap al-qurán juga tidak mungkin, karena menolak penjelasan rasulullah terhadap al-qurán sama saja artinya dengan menolak al-qurán itu.
2. Rasulullah merupakan teladan baik yang wajib di contoh oleh setiap    
     muslim
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab,21)
3. Rasulullah saw wajib di taati :
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada allah dan rasulnya. ( al-Anfal, 20 )
Artinya : Barang siapa yang taat kepada rasulullah maka berarti ia taat kepada allah.( an-Nisa, 80 )
Ayat-ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa rasulullah saw. diutus hanya lah agar dipatuhi perintah-perintahnya dengan izin allah, manusia belum dapat dikatakan beriman apabila belum mau menerima sistem dan hukum allah yang telah di contohkan oleh rasulullah sewaktu beliau masih hidup dan sesudah beliau wafat
4. Rasulullah saw mempunyai wewenang (kekuasaaan ) untuk membuat
     suatu aturan.
Artinya : Apa yang di berikan rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang di larangnya bagimu maka tinggalkanlah. (al-Hasyr, 7 )
Dari keterangan ayat tersebut diatas jelaslah bahwa memakai al-qurán saja dan meninggalkan sunnah adalah suatu yang tidak mungkin dan tidak di benarkan. Oleh karena itu imam Syafií mengatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang di wajibkan oleh allah maka berarti ia menerima sunnah-sunnah rasulnya serta menerima hukum-hukumnya.
Ingkarussunnah
Di muka telah di jelaskan bahwa memakai al-quran saja dan menolak hadis suatu hal yang tidak mungkin . dan mustahil pula mengaku sebagai muslim yang taat, pada masa sahabat ada yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah sebagai sumber hukum. Al-hasan menuturkan ketika Imran bin Husain mengajarkan hadits ada yang meminta agar tidak usah di ajarkan hadits tapi cukup al-qur’an saja. Hal serupa pernah terjadi pada Umayyah bin Kholid yang mencari seluruh permasalahan dengan hanya merujuk pada al-qur’an. Akhirnya ia berkata kepada Abdullah bin Umar hanya menemukan sholat di rumah dan waktu perang saja tetapi tidak dengan sholat du perjalanan. Ayyub al-Sakhtyani berkata, ‘’ apabila kamu mengajarakan hadits kepada seseorang, kemudian ia berkata tidak usah pakai hadits, ajari kami al-qur’an saja, maka ketahuilah bahwa orang itu sesat dan menyesatkan dan perlu di catat bahwa gejala seperti itu hanya terjadi di Iraq saja, tidak di seluruh negri islam.
Kesimpulan
Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah al-qur’an karena merinci apa yang belum di jelaskan secara eksplisif oleh al-qur’an.sedangkan inkarussunnah sudah ada pada zaman dahulu, akan tetapi hal itu sudah lenyap pada akhir abad ketiga.
PERBEDAAN HADIST,  SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu hadis, sunnah, atsar, dan khabar. Jumhur ulama menyamakan arti hadis dan sunnah, atau dengan kata lain keduanya merupakan kata sinonim (muradif). Hanya saja istilah hadis lebih sering digunakan oleh ulama hadis. Sedangkan ulama ushul fiqh lebih banyak menggunakan istilah sunnah. Nabi sendiri menamakan ucapannya dengan sebutan al-hadis untuk membedakan antara ucapan yang berasal dari beliau sendiri dengan yang lain[1]. Berikut ini uraian dari beberapa istilah di atas:
1.    Hadis
Kata hadis secara etimologi (bahasa) berarti al-jadid (baru, antonim kata qadim), al-khabar yang berarti berita dan al-Qarib (dekat).
Sedangkan secara terminologi hadis adalah segala ucapan, perbuatan, ketetapan dan karakter Muhammad Saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi.
2.    Sunnah
Sunnah secara etimologi adalah perbuatan atau perjalanan yang pernah dilalui baik yang tercela maupun yang terpuji. Sedangkan secara terminologi sunnah mempunyai pengertian yang berbeda-beda, karena ulama memberikan pengertian sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.
·         Menurut ulama ahli hadis, sunnah adalah semua hal yang berasal dari Nabi, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun hal-hal yang lainya. Menurut pengertian ini sunnah bisa meliputi fisik maupun perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum ataupun sesudah beliau diangkat menjadi Rasul. Mereka memandang Nabi adalah sosok suri tauladan yang sempurna bagi umat Islam, sehingga dalam pandangan mereka segala sesuatu yang berasal dari Nabi; baik yang ada kaitanya dengan hukum maupun tidak adalah sunnah.
·         Ulama usul fiqh memberikan definisi yang hampir sama, namun mereka membatasi sunnah hanya dengan yang bisa dijadikan acuan pengambilan hukum. Hal ini disebabkan mereka memandang Nabi sebagai syari’ (pembuat syariat) di samping Allah. Hanya saja ketika ulama usul mengucapkan hadis secara mutlak maka yang dimaksud adalah sunnah qawliyah. Karena menurut mereka sunnah memiliki arti yang lebih luas dari hadis, yaitu mencakup semua hal yang bisa dijadikan petunjuk hukum. bukan sebatas ucapan saja.
·         Ulama fiqh mendefinisikan sunnah dengan suatu hal mendapatkan pahala bila dikerjakan namun tidak sampai mendapatkan dosa bila ditinggalkan. Mereka memandang Nabi saw sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya mengandung hukum syara’.

3.      Khabar dan Atsar
Pengertian khabar dan atsar menurut ulama hadis adalah sama dengan hadis. Namun sebagian ulama berpendapat bahwasannya sesuatu yang berasal dari Nabi adalah hadis. Sedangkan yang berasal dari selain Nabi disebut khabar. Para fuqaha Khurasan menyebut hadis mawquf dengan khabar dan hadis maqthu‘ dengan atsar.
Menurut arti bahasa khabar ialah berita[1]. Jadi, khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadis, karena tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Secara terminologi khabar  ada beberapa pendapat, di antaranya "hadis yang disandarkan pada sahabat", atau "segala berita yang diterima dari selain dari Nabi". Untuk terminologi khabar, peneliti lebih sepakat dengan definisi yang pertama - sebagaimana juga dikemukakan oleh ulama Khurasan- yaitu khabar ialah hadis yang disandarkan pada sahabat (mawquf). Hal ini dimaksud untuk memudahkan klasifikasi serta untuk membedakan antara khabar dengan hadis atau sunnah.
Secara etimologi atsar berarti bekas atau sisa. Sedangkan secara terminologi ada 2 pendapat; (1). Atsar sinonim dengan hadis (2). Atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan sahabat[1]. Pendapat yang kedua ini mungkin berdasarkan arti etimologisnya. Dengan penjelasan, perkataan sahabat merupakan sisa dari sabda Nabi. Oleh karena itu, perkataan sahabat  disebut dengan atsar merupakan hal yang wajar.
Dari paparan tentang definisi hadis, sunnah, khabar dan atsar di atas, dapat dilihat bahwa ada perbedaan terminologi yang digunakan oleh muhadditsin terkait ruang lingkup dan sumber ke empat definisi tersebut. Hadis atau sunnah memberikan pengertian bahwa rawi mengutip hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw (marfu‘). Sedangkan khabar tidak hanya mencakup hadis marfu‘ saja tetapi juga mengakomodasi hadis mawquf (rawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada Rasulullah). Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi‘in (maqtu‘) saja. Sedangkan atsar oleh para muhadditsin lebih diidentikkan hanya pada hadis mawquf atau maqtu‘ saja.
Untuk memudahkan pengidentifikasian hadis, maka akan lebih mudah apabila istilah hadis, sunnah, khabar dan atsar dibedakan dalam pendefinisiannya. Hal ini dilakukan bukan untuk mendistorsi makna dari istilah tersebut, tetapi lebih dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi. Selain itu, diharapkan akan lebih mempermudah dalam memahami struktur hadis. Sehingga menurut hemat peneliti, hadis dan sunnah dipergunakan adalah untuk hadis marfu‘, khabar untuk hadis mawquf, dan atsar untuk hadis maqthu


BIDAH ( Ar : bid’ah )

Secara umum, bid’ah berarti “ segala sesuatu yang diada-adakan dalam bentuk yang tidak ada contohnya”.
Dilihat secara segi dari usul fikih, bid’ah dapat dibedakan atas dua jenis.  Yaitu sbb:
(1). Pertama, Bid’ah meliputi segala sesuatu yang diada-adakan dalam soal ibadah saja. Bid’ah dalam pengertian ini adalah urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, yang dipandang menyamai syariat itu sendiri, dan mengerjakannya secara berlebih-lebihan dalam soal ibadah kepada Allah .
(2). Kedua,     Bid’ah  meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun urusan adat. Perbuatan itu seakan-akan urusan agama, yang dipandang menyamai syariat  sendiri, sehingga mengerjakanya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri.
Dari segi fikih, bid’ah juga dapat dibedakan  jadi dua jenis yaitu ;
(1). Pertama,  bid’ah adalah perbuatan tercela yang diada-adakan serta bertentangan dengan Al Qur’an, sunah Rosulullah SAW, atau dengan ijmak. Inilah bid’ah yang sama sekali tidak diizinkan oleh agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara tegas maupun secara isyarat saja. Urusan-urusan  keduniaan tidak termasuk ke dalam  pengertian ini.
(2). Kedua,     Bid’ah meliputi segala yang diada-adakan  sesudah Nabi SAW, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, baik mengenai ibadah maupun mengenai adat, yaitu yang berkaitan dengan urusan keduniaan.
Dilihat secara umum sebenarnya bid’ah ini ada dua macam yaitu:
(1). Bid’ah hasanah ( yang baik). Dan bid’ah ini dibagi yaitu ;                                          
                   (a). Bid’ah wajibah ( yang wajib ) yaitu  pekerjaan yang masuk dalam kaidah-kaidah wajib , dan masuk dalam kehendak dalil agama. Misalnya, mengumpulkan dan membukukan Al Qur’an dalam satu mushaf ( lembaran naskah Al qur’an yang bertuliskan tangan ) Demikian juga membukukan ilmu, mempelajarinya dengan jalan memahami Al Qur’an, dan menetapkan kaidah-kaidah yang digunakan sebagai alat untuk  menggali hukum dari dalilnya. Hal ini dianggap bid’ah karena tidak ada dalm praktek pada masa Rosulullah SAW.
                   (b) Bid’ah mandubah ( yang sunah atau yang disukai Allah SWT ). Yaitu pekerjaan yang diwujudkan oleh kaidah – kaidah nabd ( sunat ) dan dalil- dalilnya. Misalnya mengerjakan tarawih berjamaah tiap malam bulan puasa, dan dipimpin oleh seorang imam tertentu. Perbuatan ini tidak pernah terjadi pada masa Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar RA, dan permulaan masa Umar RA. Setelah melihat jemaah masjid shalat sendiri-sendiri, atau berkelompok, maka Umar RA menyuruh seseorang untuk mengimami shalat tarawih tersebut.
                   ( c ) Bid’ah mubahah. Adalah pekerjaan yang diterima oleh dalil misalnya makan diatas meja ataumenggunakan pengeras suara untuk azan.
(2). Bid’ah qabihah atau sayyi’ah ( yang jelek ) dan Bid’ah ini dibagi menjadi dua yaitu:
(a)  Bid’ah makruhah  ( yang makruh atau yang tidak disenangi Allah ) adalah pekerjaan yang masuk dalam kaidah dalil makruh. Misalnya menentukan hari utama dengan suatu macam ibadah , menambah nambah amalan sunat yang telah ada batasnya.
(b) Bid’ah muharamah ( yang diharamkan ). Adalah pekerjaan yang masuk kedalam kaidah dan dalil haram. Misalnya, perbuatan-perbuatan yang masuk kedalam kaidah haram, adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang agama, seperti mengangkat orang yang tidak ahli untuk mengendalikan urusan-urusan penting atas dasar keturunan dengan mengabaikan keahlian.
Berkaitan  dengan bid’ah ini Rosulullah SAW pernah memperingatkan bahwa “ Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan ( urusan agama) tanpa ada dasar dariku (Nabi ) maka amalan itu sia-sia ( di tolak ). Peringatan itu terkandung dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim ditegaskan bahwa “ setiap bid’ah itu dianggap sesat, dan setiap yang sesat itu nerakalah yang pantas bagi pelakunya “. Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kata-kata    Setiap bid’ah itu sesat” adalah pekerjaan yang tergolong kedalam bid’ah sayyiah, yaitu bid’ah muharramah, dan bid’ah makruhah. Perbuatan-perbuatan  yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama Islam disebut al “al ’Amal as Sunni. Sedangkan perbuatan-perbuatan yang pelaksanaanya tidak menurut agama disebut al ‘Amal al Bid’i